Senin, 06 Mei 2013

Manusia Dan Pandangan Hidup



Contoh Kasus " Agama Tak Mesti Berbenturan Dengan Sains "

JAKARTA, KOMPAS.com — Agama atau kepercayaan apa pun dewasa ini menghadapi tantangan berat karena kemajuan sains dan teknologi yang pesat. Namun, agama dan sains tidak mesti dipertentangkan, justru harus dikritik, sejauh mana pemanfaatan sains dan teknologi yang pesat itu tidak mencederai manusia dan lingkungan.
Demikian persoalan yang mengemuka dalam seminar soal "Agama dan Bio Etika" yang dilaksanakan Majelis Buddhayana Indonesia bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace(ICRP) dan Kompas di Jakarta, Selasa (30/6). Hadir sebagai pembicara adalah Musdah Mulia, Romo Kees Bartens, dan Ven Karma Lekshe Tsomo.
Musdah mengatakan, jika kembali pada prinsip dasar, sebenarnya agama dan sains bertujuan untuk memberi kebahagiaan pada manusia. Ketika agama dijadikan pedoman hidup yang tidak menghakimi orang lain apalagi sebagai sumber konflik, agama dapat memberi pencerahan untuk manusia. Demikian juga sains dan teknologi yang dimanfaatkan dengan benar mampu membantu manusia. 
Banyak masalah baru yang dihadapkan ke agama. Dan, agama tidak mudah juga untuk menjawabnya. "Yang perlu dilakukan adalah memahami prinsip dasar agama itu. Tidak masalah jika perlu reinterpretasi dalam pemikiran agama," ujar Musdah. 

Soal aborsi, misalnya, dari penelitian yang ada tidak melulu karena free sex. Musdah menyebutkan, justru sekitar 78 persen pelaku aborsi adalah perempuan baik-baik atau bersuami yang sudah memiliki banyak anak.
"Tidak bisa digeneralisasi semua kasus salah. Karena itu, perlu dilihat juga kasus per kasus. Misalnya, dalam kasus aborsi," kata Musdah.
Ven Karma Lekshe Tsomo, Guru Besar Filsafat dari Amerika Serikat, mengatakan, etika tertinggal dengan kemajuan sains. Isu-isu yang kontroversial antara agama dan sains misalnya soal aborsi, eutanasia, donasi organ, kloning, dan penelitian sel induk.
Romo Kees Bartens mengatakan, dalam konteks bioetika tidak ada perbedaan banyak antara pandangan agama-agama. Yang berbeda adalah pandangan agama dan sekular. 
Dalam perbedaan tersebut, di negara-negara modern menempuh jalan keluar dengan membentuk kebijakan secara demokratis. Bisa terjadi hal lucu di suatu negara. Misalnya di Amerika, jika Partai Demokrat yang berkuasa, penelitian dengan embrio boleh. "Sebaliknya dilarang jika di bawah pemerintahan Republikan," kata Bartens

Sumber :

Opini saya :
Pandangan hidup masing-masing orang berbeda-beda, baik ajaran dan pandangan hidupnya. Setiap orang yang menganut ajaran tertentu memiliki kepercayaan terhadap ajaran tersebut, lain halnya dengan sains. Sains jika ingin dipercaya harus melalui proses percobaan dan pembuktian dari hipotesa yang telah dibuat. 
Dari artikel diatas ajaran agama dan sains memang sepertinya tidak dapat dihindarkan karena dalam sains kadang kala harus mengorbankan janin jika membahayakan nyawa sang ibu, sedangkan dalam agama membunuh nyawa seseorang adalah dosa. Oleh karena itu Sains dan Agama harus berbenturan namun dalam kehidupan yang sebenarnya kita harus dapat mempertimbangkan dalam menggambil keputusan yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar